" Kami Tantang Kalian Untuk Selalu Berkarya...!!"
______________________________________________

Kamis, 18 Februari 2010 SESUATU “SASTRA"

Berawal dari sebuah pertanyaan “Apa itu Sastra?”. Untuk memahami sastra tidaklah cukup dengan mengetahui pengertian sastra secara harfiah semata karena berbagai pengertian sastra lahir dan dikemukakan oleh banyak ahli. Secara gampang sastra kita anggap saja sebagai ilmu tentang bahasa.
Pertanyaan kemudian beralih kepada “Bahasa yang bagaimana disebut sebagai bahasa (karya) sastra?”. Sering kita mengenal bahwa bahasa sastra adalah bahasa yang dibentuk oleh kata-kata yang indah, konotatif (bukan makna sebenarnya), hiperbolis (dilebih-lebihkan), ataupun bahasa yang mendayu-dayu. Meskipun pengertian yang demikian bukan pengertian yang salah, karena berbagai karya sastra yang ada dan pernah kita jumpai selama ini berbau demikian adanya. Namun tidak semua karya sastra berbentuk demikian, pernahkah kalian membaca sebuah atau beberapa buah bait dari puisi yang didalamnya terdapat kata-kata seperti (maaf) : “Jancok”, “Jangkrik”, “Asu”, atau bahkan menyebut “alat kelamin”. Kenapa bait-bait puisi itu disebut sebagai karya sastra.
Kalau boleh saya berujar sebuah karya dikatakan karya sastra bukan hanya terletak pada untaian kata-kata, namun lebih kepada kandungan makna yang terdapat didalamnya. Penilaian (apresiasi) terhadap karya sastra adalah terletak pada makna yang terkandung di balik untaian kata-kata yang ada.
Lalu, “bagaimana menilai (mengapresiasi) sebuah karya sastra?”. Ada berbagai cara yang bisa digunakan untuk memahami / menilai sebuah karya sastra, diantara beberapa hal yang harus dicermati adalah :
  1. Latar Belakang Penciptaan, terdiri dari : darimana dan bagaimana ide tercipta
  2. Biografi Penulis : Kebanyakan karya yang lahir dipengaruhi oleh hal-hal yang terkait dengan penulis seperti zaman ketika penulis membuat karya, kehidupan pribadi, situasi emosional dsb.
  3. Penggunaan Tata Bahasa : terkait dengan simbol-simbol
  4. Pemaknaan terhadap karya : pemaknaan ini biasanya bersifat subyektif karena selalu terkait dengan kemampuan interpretasi masing-masing.
  5. Perbandingan dengan karya yang telah ada.
  6. Jangan hanya terpaku dengan bentuk dan warna kulit tapi rasakan isi yang ada didalam

By. Jalak’e SUA
Diajukan Sebagai Materi Training Dasar Teater SUA 2006

Free Template Blogger Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Digg it StumbleUpon del.icio.us

0 komentar:

Posting Komentar