" Kami Tantang Kalian Untuk Selalu Berkarya...!!"
______________________________________________

Selasa, 10 Juni 2014 JU2 (Jupri Juleha)

Adegan  1:

Juleha    : Cinta ini ingin ku biarkan mengalir menembus cahaya yang bisa menusuk disetiap dentingan lonceng yang telah mengubur telinga semua orang dengan igauan dalam mimpi dialam nyatanya. Aku ingin merobek kitab-kitab suci yang sudah tidak lagi menjadi pedoman ketika suatu keadaan tidak lagi membutuhkannya. Yang salah selalu dianggap salah. Tapi bisa menjadi benar saat itu dibutuhkan menjadi benar. Lalu kenapa hakekat kita tidak pernah menjadi benar karena kebenaran kita tidak bisa disamakan dengan kebenaran mereka.
Jupri        : Tegakkan kepalamu wahai permata yang telah menjadi setitik cahaya dalam gelapnya hidupku.
Juleha    : Sering aku mengharap sebuah belas kasihan kepada dewa atau malaikat agar aku bisa mendapat kebahagiaan yang lain. Seolah aku penguasa mereka yang memerintah agar semua permintaanku bisa dilaksanakan. Apa daya aku ternyata hanya umat terkecil yang hanya bisa menerima semua yang telah ditentukan untukku. Termasuk kebahagiaan sempurna saat aku bisa bersama denganmu.
Jupri       : Bukan aku saja surga yang bisa kau rasakan, tujuan hidup yang sebenarnya harus tetap kamu cari surga yang mampu memberikan keindahan dan kenikmatan hidup yang hakiki.
Juleha    : Ini hanya surge dunia. surga akan tidak lagi menjadi pedoman seseorang bila surga itu tak lagi menawarkan kebahagiaan. Dan kebahagiaanku hanyalah untukmu dan denganmu.
Jupri       : Kenapa setiap orang berhak mencari surganya masing-masing. Lalu apa yang harus terjadi kalau surga kita akan menjadi neraka bagi mereka.
Juleha    : Aku hanya tau caranya mencintaimu. Dan aku hanya ingin merasakan cintamu padaku. Langit boleh mendung, lautan bisa pasang surut, gunung akan meletus. Tapi semua itu takkan menggoyah cinta ini untuk selamanya.
Jupri       : Apa kau akan terus merasakan bahagia dengan cintaku.
Juleha    : Apa kau terus mencintaiku.
Jupri       : Kalau merpati bisa setia sampai mati kenapa raga dengan jiwa bernurani ini tidak. Langit dan bumi yang terpisah jarak sebegitu jauh saja masih bisa bercinta dengan pesan-pesan yang disampaikan oleh angin. Melalui kesegaran air yang menguap dari lautan. Bumi menitipkan uap air itu untuk disampaikan kepada sang langit. Langitpun mewujudkan cintanya dengan menjatuhkan air itu sebagai air mata kebahagian yang menetes membasahi dahaga dunia dan memberikan kebahagiaan kepada semua penghuninya.
Juleha    : Aku juga ingin cinta kita bisa memberi kebahagiaan bagi orang lain.

Adegan 2:

Kamto   : Hoooeeeeeeeee….. ada berita heboh didesa kita. Berita yang sangat menggemparkan.
Murdin  : Jurus lengan seribu memecah bata.
Kamto   : Artinya?
Murdin  : Ada pasangan baru didesa kita……..
Habib     : Ya, benar. Dan…. Pasangan itu, adalaaahhhh…… anak juragan dengan anak tuan maling……
Kamto   : Ini memang berita yang hangat dan heboh.
Murdin  : Berita yang actual dan factual. Harus kita kupas setajam silet…..
Habib     : Bagaiman mungkin, anak seorang juragan kaya raya. Bisa jatuh cinta kepada anak almarhum mantan maling. Kere lagi.
Kamto   : Mungkin, si Jupri itu sudah mewarisi bakat ayahnya sebagai seorang maling. Makanya dia berhasil mencuri hati anak pak juragan.
Habib     : Bukan, lebih tepatnya jupri tidak mencuri hati anak juragan. Tapi telah menyebarkan tipu muslihatnya agar itu anak juragan bias jatuh hati padanya.
Murdin  : Caranya?
Habib     : Gampang, mbel sembelegembel, busguntubusmblubus, prat ketapratnyiprat. Ajiku aji jaran goyang.
Kamto   : Ya…. Aji-aji jaran goyang. Jarane goyang ngebor, goyang ngecor, goyang kayang, yang ter up date! goyang karawang. Khikhihihihihih…….
Murdin  : Heh…. Malah nakut-nakutin kamu….
Habib     : Kenapa harus takut, Juleha saja tidak takut.padahal dia seharusnya sadar kalau Jupri itu tidak pantas untuk dia.
Kamto   : Ini memang aneh tapi nyata. Apakah cerita ini bisa menjadi seperti di sinetron-sinetron yang bisa berakhir dengan romantic dan manis.
Murdin  : Apa mungkin cinta mereka akan bersatu untuk selamanya.

Dalang   : Hoee… apa yang kalian ucapkan tadi. Itu tidak mungkin.
Habib     : Maap tuan juragan, maap, bukannya kami ingin menyebarkan isu-isu kosong yang mengadu domba. Tapi ini berdasarkan bukti dan fakta yang ada d TKP.
Dalang   : Kamu jangan bohong, ini tidak boleh terjadi. Aku ini orang kaya dan terhormat. Putriku juga harus menikah dengan orang kaya dan terhormat.
Murdin  : Kami tidak bohong juragan.
Dalang   : Jangan macam-macam dengan saya kalian.
Kamto   : Ini benar tuan.
Dalang   : Kurang ajar kalian….. awas kalian.
Koor ber3        : Maaf tuan….
Dalang   : Tenang… tanang…. Itu kalau tuan juragan yang bilang begitu, ( sambil membuka kumisnya ) lha inikan aku. Bambang…….
Koor ber3        : wwoooo bambang edan,( mengolok-olok bambang lalu pergi meninggalkannya.

Dalang   : ( menyapa penonton ) ini adalah kisah sahabatku jupri yang jatuh cinta pada anak juraganku bernama juleha. Kisah mereka ini sudah dimulai sejak masa kanak-kanak. Dimana saat-saat kita masih suka bermain dulu. Waktu itu kami sering main bareng. Tapi si jupri dan juleha lebih seneng main berduaan saja, sehingga akhirnya mereka jatuh cinta karena seringnya bersama.

Adegan  3:

Permainan anak2 yang dilakukan oleh dalang Bambang, Kamto, Habib, Murdin serta Jupri dan Juleha.dimana Jupri dan Juleha tidak suka mengikuti permainan anak-anak yang lain sehingga mereka berdua suka bermain sendiri meninggalkan yang lainnya.

Adegan  4:

Ibu         : Jupri…. Pulang kamu jupri…. Ini sudah sore….
Jupri       : Iya bu…. Aku dating…
Ibu         : Kamu ini jupri, tidak pernah bias dibilangin ya. Kamu itu jangan lagi berhubungan dengan anak juragan itu. Kamu sadar le… kamu itu siapa…
Jupri       : Kenapa hal ini selalu dipermasalahkan bu. Kenapa? Apa kerena aku ini anak maleng…
Ibu         : Bukan itu saja, kamu itu orang kecil, juleha itu anak juragan kaya dan terhormat le…
Jupri       : Kenapa juga aku harus dilahirkan sebagai anak maleng.
Ibu         : Jangan pernah ikut menghina bapakmu le. Bapakmu tetap meninggal dengan keadaan suci dan terhormat.
Jupri       : Lalu kenapa orang-orang mengatakan bapak sebagi maling bu.
Ibu         : Bapakmu bukan maleng le, bapakmu itu Cuma koruptor….
Jupri       : Sama saja bu….
Ibu         : Tapi itu Cuma fitnah le…
Jupri       : Kenapa bapak harus difitnah sampai kena amuk massa saat itu.
Ibu         : Bapakmu difitnah karena bapakmu terlalu jujur, dia tidak suka membagi proyeknya kepada pejabat desa karena dia ingin menggunakan dana proyek itu secara benar dan tidak dipersalah gunakan oleh beberapa orang yang punya niatan busuk mencurangi setiap proyek desa yang ada. Makanya bapakmu selalu dimusuhi sama orang-orang yang kurang menerima jatah dari hasil menggarap proyek untuk desa ini.
Jupri       : Kenapa bapak dipersalahkan oleh orang-orang itu kalau tindakan bapak sesungguhnya memang benar.
Ibu         : Kalau kebenaran didunia ini selalu dibenarkan. Kasihan malaikat isrofil. Dia akan semakin lama menganggur karena dia belum juga menemukan tanda-tanda untuk meniup terompetnya.
Jupri       : Karena itulah bu, aku akan selalu menjaga kebenaran yang ada dalam hatiku ini.
Ibu         : Kebenaran apa le, kebenaran kalau dirimu ini hanyalah orang miskin, anak mantan lurah yang dipersalahkan atas title korupnya. Sedangkan juleha itu anak orang kaya yang belum pernah hidup susah le, apa kamu yakin bias membahagiakan dia untuk selamanya. Orang tidak bias kenyang dengan makan cinta. Orang tak akan terus cantik karena rasa saying. Kamu harus tau itu le.
Jupri       : Kukup bu. Baiklah, aku akan buktikan kalau aku bisa menjadi orang yang bias membahagiakan Juleha untuk selamanya.

Adegan  5:

 Juleha   : Mas…. Aku memang bukan HAWA yang diciptakan untuk menemani dan menjadi pendamping ADAM. Aku juga bukan LAILA yang rela menghabiskan air matanya seumur hidup untuk menangisi QAIS. Aku hanya wanita yang masih menginginkan cinta suci yang bersatu atas restu dan kebahagian orang-orang yang menjadi bagian hidupku. Aku ingin kesetiaan cinta ini juga diiringi pembuktian bahwa kita memang pantas untuk menjadi sejoli yang serasi dan romantic seumur hidup mas……..

Adegan  6:

( Dengan kobaran api yang membara, jupri menguatkan tekatnya untuk pergi ke negeri seberang. Negeri yang menjanjikan emas dan permata sebagai ukuran kehormatan seseorang dikampungnya.)
Tiga orang pemain mengelilingi jupri dan melakukan atraksi api dengan mengatakan.
“ teruskan perjuanganmu”
“ kamu pasti bisa”
“buktikan semua pada mereka”
“jangan pernah menyerah”
“temukan jalanmu sekarang juga”
Jupri       : Bu, Juleha, tekadku sudah bulat untuk melakukan ini. Tunggu kehadiranku sebagai orang yang benar-benar pantas untuk menjadi lelaki pendampingmu Juleha.

Adegan  7:

(  Jupri menuju arah ibunya untuk berpamitan )

Jupri       : Ijinkan aku bu…
Ibu         : Apa kamu sudah menata tekatmu yang sesungguhnya le.
Jupri       : Aku sudah yakin dengan semua yang aku jalani ini bu.
Ibu         : Ibumu ini sudah tak bias menghalangimu lagi. Sudah waktunya kamu memilih jalan hidup yang akan kau tempuh. Ibu tidak bias memberimu bekal apa-apa kecuali tiga benda peninggalan leluhurmu ini. ( memberikan pedang kepada jupri ) bawalah pedang ini untuk menjaga dirimu. Tapi ingat pesan ibumu ini. Kau hanya boleh menggunakan padang ini untuk melukai orang, bila kau sudah tak bernyawa lagi. ( lalu memberikan celana dalam ) ini barang kedua. Pakailah ini untuk kenyamananmu. Tapi Jangan pernah kau melepas barang ini didepan wanita manapun yang belum halal bagi mu. ( kemudian memberikan kalung ) ini yang terakhir. Pergunakan ini untuk kesejahteraanmu. Tapi jangan kau jual sebelum kau punya keikhlasan untuk memberikan 75% hasil penjualannya kepada orang yang lebih membutuhkan.
Jupri       : Terima kasih ibu. Aku akan selalu berusaha untuk yang terbaik.

Adegan  8:
( Warga yang selalu meng-up date kisah cinta ini kembali bergunjing tentang jupri )
Kamto   : Jupri minggat….. jupri minggat….
Murdin  : Nggak minggat… nggak minggat….
Habib     : Kok nggak minggat.? Kenapa?
Murdin  : Jupri nggak jadi minggat, tapi kabur…. Jupri kabur…….
Kamto   : Kok tega ya jupri meninggalkan juleha yang secantik itu. Eman’e rek……
Habib     : Dasar jupri edan.
Murdin  : Ternyata semudah itu jupri menyerah ya….
Habib     : Heh..heh…. kalian tau gak, kalau juleha itu katanya sudah dihamili sama jupri.
Kamto   : Iya, itu sudah menjadi rahasia umum didesa ini.
Murdin  : Kelakuan anak jaman sekarang, kalau cintanya tak mau dipaksa lepas. Akhirnya kondomlah yang mereka lepas.

Dalang   : Apa yang kalian katakan. Jangan ngomong sembarangan kalian.
Koor ber3        : Ma..ma…maap tuan juragan. Tapi, Cuma ngomong masalah jupri yang kabur tuan.
Dalang   : Dari pada kalian ngomongin jupri yang kabur, lebih baik kalian saja yang kabur… pergi sana…..
( Mereka bertiga pun pergi meninggalkan dalang )
Dalang   : Jupri edan, jupri kurang ajar. Apa yang harus ku lakukan sekarang ini. Kok bisa Juleha harus mengandung anak dari Jupri si kere mbel gedes ini. Apa yang harus saya pilih sekarang. Dosa atau kehormatankah yang aku pilih. Tidak-tidak… aku harus bijaksana. Aku tidak bisa memilih salah satunya, tapi harus adil. Aku harus menikahkan Juleha sekarang juga.meski dengan pemuda bodoh yang penting kaya. Jadi dosaku terkurangi karena aku tidak jadi menggugurkan kandungan anakku. Kehormatanku juga tetap terjaga karena Juleha tidak menikah dengan orang kere dari keluarga mantan maling yang telah jadi musuhku waktu itu.
( Sambil tersenyum sinis dalang mencopot kumisnya pelan-pelan )
Dalang   : hehehehehe….. Itu kalau tuan juragan yang ngomong. Inikan aku lagi, Bambang…. Semua orang memang pada menggunjing dan mengolok-olok tentang kepergian jupri untuk menempuh jalan sukses hidupnya. Mereka semua pada menyalahkan dan menganggap Jupri sebagai orang hina. Tapi apa yang terjadi setelah kepergian Jupri selama lima tahun dinegeri seberang tersebut. Kabar apa yang diberikan Jupri kepada ibu, Juleha, serta warga disekitarnya.

Adegan  9:

( Kamto, Habib, Murdin datang membawa sebuah kardus kiriman dari Jupri untuk Ibunya. )

Koor ber3        : pos..pos… tuuuut tuuuuutttt…. Kiriman dating….
Habib     : wih, keren ya si jupri sekarang. Tiap bulan dia selalu mengirimkan barang-mewah kerumah ini. Kemaren pas baru dua tahun saja dia merantau dia sudah mengirim audy sport + sopir buat ibunya. Padahal dia belum buat garasi.
Murdin  : itu belum seberapa, lha pas itu ibunya dikirim hape tul skrin. Padahal aku ja yang anak gaul gini hapenya masih hape bata yang bias buat ngganjel lemari.
Kamto   : kalau hapemu itu juga bias buat ngulek sambel sampek lumbut sak cobeknya ndol.
Murdin  : tapi yo bias buat ngantem ndasmu sampek benjol.
Kamto   : jangan marah boy. Hape itu memang sekarang sudah menjadi aksesoris yang menunjukkan drajat ekonominya.
Murdin  : yo gak, lek ngadiran ja tukang becak yo punya PIN BBM’an kok. Trus mbok nem juga sudah bias facebook lewat hape, malah dah bias download fotonya yuni sara terus dijadikan foto profilnya.
( kamto kelihatan memikirkan sesuatu )
Habib     : kalu Cuma itu nggak usah dibahaslah. Yang jelas itu jupri sekarang sudah sukses, dia sudah bias membahagiakan ibunya. Dia sudah berbeda dengan yang dulu lagi. Malah kita ini yang sampai sekarang tetep gini-gini aja.
Murdin  : ( sambil memperhatikan kamto ) kamu mikirin apa ? mikir kalau kamu sekarang menyesal dulu sudah menghina dan merendahkan jupri.
Kamto   : bukan,
Habib     : lha trus mikir apa kamu?
Kamto   : ngomong-ngomong, facebooknya mbah nem nama akunnya apa ya…????
Murdin  : wacchhh…. Jangan-jangan kamu sudah nggodain facebook cewek yang pake foto profilnya yuni sara ya…… hayo…
Kamto   : ( dengan rasa malu ) gak… gak gitu kok… Cuma pengen tau saja….
Murdin  : ciye ile…. Pacaran sama mbah nem ni ye….
Kamto   : hust…hust.. cangkemu….
Habibi    : sudah-sudah, jangan memperebutkan mbah nem. Yang penting sekarang ayo ndang dikasikan ini kirimannya jupri buat ibunya. Biar kita juga bias tahu ini barang didalamnya apa.

Adegan 10:

( dialog antara ibu dan juleha ditempat berbeda. Sang ibu duduk sambil “napeni” beras. Dan juleha terlihat memandikan balita sebagai sosok anaknya. Mereka merasakan kegelisahan dan penyakitan yang selama ini mereka alami semenjak ditinggal oleh jupri. )

Ibu         : bebatuan berharga dari berbagai gunung kau berikan sebagai ranjang yang menurutmu bias menjadi penyenyak tidurku. Sekumpulan awan hitam kau minta untuk ku timang agar aku bias bahagia. Bumbu-bumbu yang kau bilang racikan surge ini hanya berasa garam berkarung-karung yang setiap hari aku kunyah.
Juleha    : apa lagi yang masih kau tunggu mas…. Apa kau masih berduka dengan kabar yang mengatakan bahwa aku harus bersanding dengan lelaki lain. Ini semua ku lakukan untuk menjaga kehidupan anak lelakimu ini agar tetap hidup dan terlahir menjadi saksi cinta kita yang abadi mas.
Ibu         : kau boleh bangga sebagai lelaki yang telah mengira bahwa dirimu sudah bias membahagiakan ibumu dengan cara seperti ini le. Itu kebanggaan ibumu ini hanya bias terwujud bila kau bias menjaga dan mendampingi ibumu ini dalam keadaan apapun disini. Keadaan dimana perutku sudah bias kenyang oleh sesuap nasi bekas hidanganmu.
Juleha    : kau boleh bangga sekarang mas. Bahwa kau sudah bias membuktikan kepada semua orang termasuk bapakku, bahwa kau sekarang sudah menjadi orang yang mampu melakukan apapun dengan gelimangan harta yang kau dapat sekarang ini. Tapi kau belum membuktikan kesetiaan cinta suci kita ini bila kau masih belum bias menemuiku mas.
Ibu         : ini semua memang sudah menjadi jalan ketika kau harus menyatukan pilihan hatimu kepada wanita yang tidak tepat. Andai saja kau bias terhindar dari rayu kodrat batiniahmu kepada wanita itu. Pasti sekarang kau tidak akan terpisah dariku dengan jarak waktu yang begitu lama.
Juleha    : ini bukan sekedar salahku mas. Ini memang sudah kehendak hidup yang harus kita jalani untuk menuju tangga cinta yang terindah. Andai saja kodrat dan keberuntungan kita tidak berbeda jauh. Aku juga terlahir sebagai anak yang dianggap kalangan bawah sepertimu, atau kau yang terlahir ditempat yang disebut golongan terhormat sepertiku. Pasti kita akan selalu bersama mas.
Ibu         : selama ini aku masih sanggup tersenyum kepada semua orang untuk menunjukkan rasa hormat terbarumu sebagai seorang hartawan yang telah mengirimkan begitu banyak kekayaan untuk kunikmati disini. Aku juga masih berusaha untuk mengamalkan kewajiban sedekahmu untuk menjaga barokah atas hartamu yang halal ini agar dirhidhoi olehnya. Tapi jika hal ini berjalan terus seperti ini. Ibumu yang renta ini tak tau lagi harus berbuat apa le.
Juleha    : orang boleh menganggap aku hina, murahan, tak bermoral. saat aku meminta berpisah dengan lelaki yang terpaksa harus bersanding denganku, dan tercatat sebagai ayah dari anak yang seharusnya kau timang ini. Hatiku boleh serasa tercabik-cabik saat setiap waktu harus menunggu kabar yang kau sendiri tak pernah sudi memberikannya padaku mas. Tapi aku selama ini masih ikhlas untuk melakukannya. Karena aku masih menunggu kasih saying darimu lagi mas. Dan aku tak tau sampai kapan akan kuhadapi.
Ibu         : datanglah le. Obati rindu ibumu ini.
Juleha    : bawalah cintamu untukku lagi mas………

Adegan  11:

Jupri       : bu…. Aku rindu pangkuanmu bu…..
              Juleha…. Aku rindu pelukanmu jul…..
              Aku disini tak seperti apa yang terkabarkan disana.
              Aku bukanlah pahlawan yang bisa kuat menahan semua ini.
              Aku bagaikan perasingan yang terhukum oleh jeruji naluri dan kenafikan.
              Aku hanyalah orang yang ingin membeli senyum dari ungkapan hasrat yang menggebu.
              Tetaplah sayangi aku ibu…..
              Tetaplah jaga kesetiaan cintaku juleha…….

Adegan  12:

Menampilkan sebuah berita yang mengulas tantang beberapa kejadian buruk yang menimpa TKI Indonesia diluar negeri. Termasuk berita si Jupri yang meninggal diluar negeri. Tapi belum ditemukan kasus kematiannya.

Adegan  13:

( Ratapan terhadap kepergian jupri )

Ibu         : sekian lama penantian tiada guna ini. Kesakitan hatiku tak mungkin bisa terobati. Garis tuhan yang seperti apa lagi yang harus kujalani sekarang. Siapa yang akan menyentuh hatiku dengan kebahagiaan lagi. Masih adakah jalan terang yang akan kulewati sekarang.
Juleha    : aku tak tau lagi jalan mana yang telah ditunjukkan untuk kulewati. Aku memang tidak menyerah. Tapi aku sekarang pasrah dengan jalan yang sudah harus kuhadapi. Aku hanya ingin segera menyatukan cinta suci yang seharusnya bisa menjadi jalan kebahagiaanku. Dimana ku temukan bahwa dunia tidak sudi lagi merestui hubungan batin dan naluriku dengan lelaki pemegang mahkota di istana cinta dari dasar lubuk hatiku.
Ibu         : terimalah restu mulia yang terpaksa kuberikan untuk kau menempuh jalan terakhirmu menapaki kehendak tuhan nak. Terima kasihku hanya bisa kulantunkan dengan doa dan puji-pujian kepada tuhan sebagai pengantar rahmat dan barokah dari –NYA untukmu.
Juleha    : sambutlah aku dipersandingan dalam dunia gelap tanpa raga wahai kekasihku. Aku hanya bisa mewujudkan permintaanku atas rhidho dan barokah-MU. Melalui rasa syukur dan segala puji atas berakhirnya siksa batin terdalam didunia ini. Maafkan aku bila SUJUD terakhirku hanya ku wakilkan kepada seutas tali yang kuharap akan menuntunku kepada pertemuan bahagia di dunia baruku kelak.



--TAMAT--

karya : moh. sihabbudin

Nb:
-          Cerita dan nama-nama yang ada dalam naskah ini hanya fiktif belaka. Bila ada kesamaan karakter dan tokoh itu hanya kebetulan yang tidak disengaja.
Digg it StumbleUpon del.icio.us

NASKAH TEATER : SYEMA




SYEMA
PEMAIN :
Malaikat 1= Doni
Malaikat 2= Izza
Malaikat 3= Mitha
Setan 1= Sari
Setan 2= Temon
Setan 3= Khozin
Manusia Baik 1= Catri
Manusia Baik 2= Rendy
Manusia Buruk 1=Steve
Manusia Buruk 2= Lisa

Babak I
            Di atas nirwana ke tiga Malaikat memainkan jemarinya, menari-nari diiringi alunan music syahdu. Dua malaikat lain datang dari arah yang berlawanan melakukan hal yang sama sembari meniupkan gelembung kebahagiaan untuk makhluk di bumi.
Malaikat 1 : Goresan tinta keabadian menyisakan jejak-jejak cahaya yang samar namun sinarnya begitu terang….
Malaikat 2 : Memberi indah…
Malaikat 3 : Memberi warna…
Malaikat 1,2,3 : Menjadi satu…Dalam melodi kehidupan... Menebar kasih… untuk seluruh manusia…

Suasana menjadi mencekam. Datang beberapa Setan yang muncul dari berbagai arah, menggemakan tawa… melangkah dengan pasti mendekati para malaikat.
Setan 1 : (tertawa) Kami datang Bersama  Mega…
Setan 2 : Diantara pelangi...
Setan 3 : Dan ditemani kilatan-kilatan petir…
Setan 1,2,3 : Kita akan selalu ada… menjadi bayang-bayang tawa… merasuk sampai ke relung jiwa…
(tertawa bersama)
Malaikat 2 : Ssst… Hey!tertawa jangan terlalu keras, anak sekolah sedang ujian.
Malaikat 3 : Berisik saja kalian!ada juga yang sedang ujian proposal tau…
Setan 2,3 : Peduli amat… mulut-mulut gue… suara-suara gue… maasalah buat lho…?
            (Malaikat 1 menjadi penengah)
Malaikat 1 : Sudahlah, jangan biarkan kebencian menyelimuti hati kita.. jangan juga menunjukkan 1% emosi yang kalian miliki itu … (sambil menggandeng kedua malaikat)
Setan 1 : (tertawa) melihat kalian seperti melihat drama korea yang sedang ngetrend.
Setan 2 : Sejak dulu kalian memang cengeng…
Malaikat 3 : Kalian keliru…
Malaikat 2 : Kami bukan cengeng…
Malaikat 1 : Kami hanya makhluk yang diberkahi hati lembut serta mulia…
Setan 1 : heh..(tertawa sinis) mulia? Yang pantas disebut mulia adalah kita!
Setan 2 : Kita membuat manusia jadi lebih cerdas… Kita mengajari manusia berfikir dan menentukan pilihan…
Setan 3 : Kita juga yang mengajari manusia untuk lebih dekat dengan tuhan…
Setan 1: Kita memberikan semangat kepada manusia agar selalu menikmati hidup dan tidak melewatkan sedetikpun tanpa kebahagiaan dan kenikmatan duniawi!
Malaikat 1: Ho…hoho…hohoho… (dengan alunan nada)
            Yang kalian lakukan lebih tepat disebut jalan kesesatan.
Malaikat 2 : Bukan kemuliaan namanya, jika membuat manusia menjadi jauh dari tuhan…
Malaikat 3 : dan… (memutaari setan )
            Yang membuat manusia selalu bahagia penuh cinta adalah kami…
            (Setan yang tidak terima perkataan Malaikat mulai marah)


Setan 1 : Aaaggrrh….. kalian makhluk tanpa jejak… Senang membanggakan diri… Selalu merebut Tender-tender kami dari tuhan… dan tak pernah mengerti Hakikat cinta sejati…
Ayo… lawan aku! buktikan bahwa kekuatan kalian tidak hanya tersembunyi dibalik ketiakmu itu…
Malaikat 1 : (Berputar seolah menari balet)
akan kami kabulkan keinginan kalian…Terimalah…
CINTARANTA…KECIBUM…KECIBUM…
(Mengayunkan tongkat kea rah setan)
(Dengan gaya Slowmotion setan menghindari serangan malaikat)
Setan 1 : Hanya seperti itu kekuatanmu…?
Memang  kami lebih baik dari kalian. Rasakan…
HAJJAGELYUM…HAJJAGELYUM…GAESUK…GAESUK…AAA…
(Dengan sedikit tarian Malaikat menghindari serangan dari Setan)
(Malaikat 2,3 dan Setan 2,3 menghentikanpertempuran antara kedua ketua Malaikat dan Setan)
“Hentikan…”
(Menyanyi lagu agar damai)
Setan 1 : oke fine… Ini sangat menggelikan…Jika kalian mampu merubah kelompok yang ada dibumi itu, kita akan menuruti keinginan kalian. Namun, jika kita yang lebih dahulu berhasil mempengaruhi kelompok yang satu lagi, kalian tidak boleh turun kebumi selama 1000 tahun dan menuruti keinginan kami.
Malaikat 1: Baiklah,dengan senang hati.

BABAK II
Di bumi terdapat 2 kelompok yang hidup berdampingan, namun dipisahkan oleh sekat-sekat yang takkan mungkin dipahami oleh manusia.Yuk noton lagi…
(Dimensi Merah) Lampu menyala, melakukan gerakan sesuai peranya diiringi lagu yang menjadi backson hidup mereka. Lampu redup.
(Dimensi Hijau) Lampu menyala, melakukan gerakan sesuai peranya diiringi lagu yang menjadi backson hidup mereka. lampu redup.
Malaikat masuk dalam dimensi Hijau. Menari menuju dimensi merah berputar mengitari mereka yang ada dalam dimensi merah.
“Hiduplah dengan penuh cinta…”
“Tenangkan hati dan fikiran…”
“Musnahkan seluruh amarah…”
(Ketiga malaikat meninggalkan panggung)
(Setan masuk melalui dimensi merah menuju dimensi hijau)
“Nikmatilah hidup ini…”
“Jangan buang waktu untuk sesuatu yang belum jelas…”
“Berpikirlah… Rasakan seluruh kenikmatan duniawi…”
(Setan berlalu meninggalkan panggung)
*Blackout*

BABAK III
(ALunan musik ceria mengiringi langkah kedua kelompok)
 Dan tak sengaja motor kelompok jahat menabrak salah satu perempuan dari kelompok baik. Pertemuan yang tanpa di sengaja tersebut menjadikan masing-masing anggota kelompok saling tertarik satu sama lain. dan tidak peduli pada rekan masing-masing.
Sedangkan anggota kelompok jahat lain yang tidak terima karena jalanya dihalangi menjadi emosi dan berseteru dengan anggota kelompok baik.Tablo.
*Blak out*

BABAK IV
Pada tempat yang berbeda, Malaikat Nampak galau mengetahui usahanya kurang berhasil. Pucuk dicinta ulampun tiba, Setan datang mengurangi kegalauan Malaikat. wah …Apa yang terjadi?
(Malaikat duduk melamun)
(Setan muncul mengagetkan malaikat)
Setan 1 : Hoy…!Pantesan aja banyak kekacauan yang terjadi di bumi, wong malaikatnya sedang galau begini..
Malaikat 1 : Aku juga tidak memahami ini… Setelah jutaan tahun berlalu, baru kali ini aku merasakanya. Serasa ada yang kurang…Ya, sepertinya ada yang salah.
Setan 1 : Hah... Ternyata baru sekarang kau menyadari kesalahanmu.
Malaikat 1: Aku tidak berkata “Aku yang melakukan kesalahan” , tapi aku mengatakan “sepertinya ada yang salah” dan yang pasti itu bukan diriku.
Setan 1 : Inilah salah satu keahlianmu, BERKELIT!
Malaikat 1: Kenapa kau suka sekali memojokkan?
Setan 1: Nah... Akhirnya Kau mengakui...
Malaikat 1: Sudahlah...
                Aku tidak ingin melanjutkan permintaanmu.
Setan 1: Apa Maksudmu? Mana semangat yang selalu kau tunjukkan..,kau banggakan...
Selalu saja seperti ini, saat aku tidak ingin bermain-main dengan mu, kau memaksaku untuk mengikuti permainan mu. Dan saat aku sangat bersemangat kau malah menyerah tanpa alasan.
Malaikat 1: Aku tidak bermaksud untuk itu, aku hanya sedang berfikir. Apa yang menyebabkan dunia menjadi rumit? Semenjak pertarungan antara kau dan aku.
(Setan 2 dan setan 3 masuk dengan langkah yang sama)
Setan 2 : Kemelut tanya terus mengepul...
            Kadang terasa menyesakkan dada...
Setan 3: Ada banyak hal yang tidak dapat di jelaskan oleh akal...
(Dari sisi yang berlawanan muncul Malaikat 2 dan malaikat 3)
Malaikat 2 : Setetes embun ketulusan dapat memberi rongga bagi jiwa yang serasa mati.
Malaikat 3: Dan hatilah yang mampu mengerti serta memahami...
(Malaikat 1 dan setan 1 saling memandang, kemudian Setan 1 menatap lurus kedepan dan maju selangkah )
Setan 1 : yah... harusnya kita mampu bertindak lebih dewasa.
Malaikat 1 : kita terlalu menikmati dunia kita sendiri.
(Setan 2,setan 3, maliakt 2, dan malaikt 3 menjadi satu)
Setan 2 : selam ini dunia kacau...
Malaikat 2 : karena kita tak pernah sejalan
Setan 3 : selama ini kita tak pernah sejalan...
Malaikat 3: karena kita tak pernah saling memperhatikan.
Setan 1 : selama ini kita terlalu asyik dengan gelar siapa yang terhebat
Malaikat 1: dan mengabaikan perasaan mereka...
            Sesungguhnya tidak ada diantara kita yang terhebat, karena kita pun memiliki kekurangan.
Setan 1 : dan Harusnya kita dapat Berdamai agar tak ada lagi yang dipersalahkan atas kekacauan yang terjadi
Malaikat 1: Mari kita berpegangan tangan, berpeluk erat, menghapus setitik noda dalam hati, agar damai selalu menyertai...
Setan 1 : tapi kita takkan pernah sepaham...    

*END*


karya : shalisa sharma '10
Digg it StumbleUpon del.icio.us

Selasa, 18 Oktober 2011 MENCARI LILIS SUKMA AYU

 Pemain:
Elis: pemarah, pemmurung, depresi
Ajeng: manja, pendiam
Bonbon: sok pintar, gendut, ceria
Gogon: lugu, penakut, gendut
Ayah: bijaksana
Ibu: lemah lembut
Nenek: baik, tegas
Dokter: sabar, bijak
Suster: berani, pintar
Pembantu: sok tahu, baik
                                         Satpam: baik
                                         Security: tegas
 

ADEGAN I
Panggung gelap. Tiba-tiba lampu menyala menyoroti seseorang yg tergeletak. Seorang perempuan. Ia terbangun secara tiba-tiba, melihat sekitar dengan pandangan takut dan bingung. Berkali-kali menggenggam tangannya sambil tolah-toleh. Ia semakin takut dengan melihat sekitarnya yang penuh  ceceran darah. Napasnya semakin cepat, matanya semakin terbelalak, tangannya menutupi mulutnya seakan tak percaya. Tapi ia merasakan lain. Tangannya lengket dan basah. Perlahan ia melihat ke arah tangannya. Ia kembali terbelalak mengetahui tangannya penuh dengan darah. Perlahan ia mundur dengan tangan bergetar sambil kembali mengingat apa yang terjadi. Ia memejamkan mata dan tangannya mencengkram kepalanya dengan kuat sambil memukul-mukul kepala mencoba mengingat. Matanya kembali terbuka. Ia beringsut cepat. Tubuhnya lemas tapi tangannya tetap bergetar. Matanya mulai merah karena tangis.
Elis: ap..apa…apa yang terjadi??(memeluk lututnya) aku…aku tidak mebunuh siapapun…aku yakin…aku gadis yang baik…aku bahkan paling dimanja di keluarga ku. Ibu sangat menyayangiku dan memuji kepandaian ku memasak, ayah…dia selalu kagum pada hasil jahitan ku. Dan nenek…terkadang dia menarik hidungku, tapi itu karena gemas dengan kecantikanku…lalu kakak…kakak…yah…dia…dia berbeda. Dia membenciku, yah…dia iri padaku karena lebih disayang keluarga. Pandangan matanya selalu tajam padaku. Yah…pasti dia. Hoh…apa yang dia lakukan pada ayah, ibu, dan nenek???
Lampu menerangi isi panggung. Berantakan dan darah tercecer di mana-mana. Perempuan itu kembali kaget.
Elis: apa-apaan semua ini?? Kakak…kau keterlaluan. Apa yang kau lakukan?? (menjerit)
Perempuan itu bergegas keluar panggung. Panggung tetap berantakan dan masih berlumuran darah. Dari tumpukan barang tampak sesuatu yang bergerak. Kemudian terlihat tangan yang keluar dari tumpkan barang. Tangan yang berlumuran darah juga. Sama seperti perempuan tadi, tapi yanng ini...memegang golok. Itukah sang kakak yang disebut-sebut oleh perempuan tadi? Panggung kembali gelap.
 

ADEGAN II
Panggung kembali nyala, tapi kali ini nuansanya putih dan rapih. Terlihat ada seorang perempuan yang terduduk diam. Lututnya tertekuk dan jemarinya mengetuk-ngetuk lantai. Pandangannya kosong. Mulutnya tertutup tapi tampak dia sedang menyenandungkan sesuatu. Sesekali dia tersenyum lembut sambil menggoyang-goyangkan badannya kekiri kekanan dengan memiringkan kepala. Tapi kemudian sambil bersenandung ia menangis dan menjerit. Ia mencengkram kedua lututnya. Dan tertunduk diam. Sesekali tertaawa dalam tundukannya.
Dua orang berpakaian putih-putih masuk dengan membawa catur dan congklak. Laki-laki dengan badan yang besar-besar.
Bonbon: hey....kenapa kamu ikuti aku? Pergi sana, cari tempat lain. Aku mau main catur dengan Ajeng. Kemarin dia berhasil mengalahkan aku.
Gogon: idih ge-er. Bukan aku yang mengikutimu tapi kamu tau. Lagi pula aku mau tanding lagi sama Ajeng. Dua hari yang lalu dia juga berhaasil mengalahkanku.
Bonbon: tapi kan kamu bermain congklak?
Gogon: terus kenapa? Kamu juga bermain catur.
Bonbon: congklak permainan anak cewek.
Gogon: ajeng kan cewek.
Bonbon: tapi kamunya kan laki-laki. Bagaimana sih.
Gogon: yang penting lawannya cewek. Lagian kan catur permainan laki-laki.
Bonbon: karena aku kan emang laki-laki.
Gogon: tapi masalahnya Ajeng itu cewek.
Bonbon: kok sepertinya ada yang salah sih?
Gogon: memang ada yang salah. Lihat yang kau bawa itu bukan bidak catur, tapi stempel-stempel rumah sakit!!!
Bonbon: bukan itu...pasti kita salah memilih permainan. Harusnya bukan catur atau congklak, tapi lompat tali. Kita harusnya bermain lompat tali. Itu permainan laki-laki dan perempuan. Pagi2 ayah pernah lompat tali.
Gogon: bukannya ayah mu meninggal saat kamu dalam kandungan??
Bonbon: oh y? Oh kalau begitu itu pasti ayahmu...
Gogon: kita kan bukan tetanngga...kita saling kenal di sini....
Bonbon: lalu itu ayah siapa??
Gogon: bisa saja itu ayah adikmu...
Bonbon: aku anak tunggal...aduh pusing...
Gogon: itu karena badan mu gendut jadi susah berpikir...
Bonbon: badanmu juga kan gendut...kau bahkan mirip ade namnung
Gogon: kau mirip ucok baba...
Bonbon: ucok baba itu kecil...aku itu mirip dumbledore....
Dokter: (datang mem bawa map) ssstt....bonbon...gogon...kalian berisik. Kalian pasti mau mengganggu ajeng lagi. Sana keluar.
Gogon: tunggu dulu...sebelum keluar...diantara kami siapa yang paling gendut??
Dokter: (menghela napas) kamu
Gogon: yes... saya paling gendut, hore saya menang....(keluar)
Bonbon: dokter jahat!! Saya kan juga tidak kalah gendut?(menangis kemudian keluar)
Dokter: (menggeleng melihat kelakuan bonbon dan gogon) Ajeng…
Ajeng: (masih menunduk dengan lutut tertekuk)
Suster: mungkin ajeng tertidur dok?
Dokter: tangannya masih mengatuk-ngatuk ke lantai, kau lihat?
Suster: benar... jangan-jangan dia ’mulai’ lagi? Ini gawat...apa harus memanggil yang lainnya dok?
Dokter: tidak usah sus... jangan cemas...kita perlahan saja mendekatinya (menghampiri ajeng dan ikut berjongkok) ajeng...
Suster: ajeng...hey...sri ajeng yudhayani, kau dengar?
Ajeng: (mengangkat kepala perlahan dengan tatapan tajam ke depan kemudian menoleh ke arah suster dan tersenyum sinis) panggil aku Ajeng saja...berani sekali kau memanggilku dengan nama itu...apa kau bosan hidup??mungkin kau mau mati ya?(berdiri dan hendak mencekik suster)
Dokter: ajeng hentikan....berhenti...(memegang kedua tangan ajeng)
Ajeng: (emosinya reda, kali ini memandang wajah dokter) apa dokter menyukaiku?
Dokter: (melepas tangan ajeng) sudah hentikan.
Ajeng: doter tampan juga ya? (tersenyum)
Suster: ajeng…duduk…
Ajeng: rupanya kau cemburu ya sus?
Doter: ajeng…saya mendapat informasi mengenai keberadaan Elis…
Ajeng: elis?(emosinnya melemah, matanya berair)
Suster: iya...elis...sri elis yudhayani, saudara tirimu.
Ajeng: jangan sebut dia seperti itu....dia tidak pantas menyandang nama keluargaku..di mana dia??
Dokter: manurut informasi... dia pernah kemari dan mencari seseorang...
Ajeng: tentu saja...tentu saja...dia pasti ingin menemuiku...dia pasti ingin membunuhku...tidak tidak...akulah yang akan membunuhnya terlebih dahulu...aku...
Suster: bukan...dia kemari bukan mencarimu....tapi mencari lilis sukma ayu...
Ajeng: lilis sukma ayu?
Dokter: yah...dia kemari mencari lilis sukma ayu...apa kau mengenal nama itu??
Ajeng: lilis sukma ayu...(tertawa) lilis sukma ayu...bohong!!!dokter dan suster bohong!!! Elis tidak mungkin mencari lilis sukma ayu.....kalian bohong!!
Suster: tapi menurut informasi memang benar...kemarin orang bernama sri elis yudhayani kemari dan mencari perempuan bernama lilis sukma ayu...
Ajeng: tidak mungkin!!!bohong!!!!
Dokter: tenang ajeng....
Suster: tapi setelah kami memeriksa ke seluruh pasien di sini... tidak ada yang bernama lilis sukma ayu...tapi dia meyakinkan diri bahwa gadis bernama lilis sukma ayu pernah dirawat disini....
Ajeng: kalian benar-benar pembohong besar....katakan di mana elis sekarang!!!
Dokter: ajeng tenang!! Suster... panggil security...
Suster memanggil security kemudian mengamankan ajeng.
 

ADEGAN III
Masih tempat yang sama. Namun panggung kosong. Dokter, suster, security, dan ajeng tidak lagi disitu. Seorang perempuan masuk dengan mengendap-endap. Dia memakai topeng untuk menyamar agar tidak ketahuan. Melangkah perlahan dan menoleh melihat sekitar. Sepi. Dia sampai ketengah panggung dan hendak melepaskan topengnya, tapi ada derap langkah tergesa-gesa menuju ruang tersebut.
Gogon: ajeng!!! Ayo main congklak....bonbon sedang tidak ada....dia pasti sedang terapi. Hihihihi. Ajeng??kok pakai topeng. Ha...kau ingin bermain permainan lain ya...ninja-ninjaan....aku diajak ya...kau tidak sedang bermain dengan bonbon kan??
Elis: hey gendut!! (masih dengan topeng)Bicara apa kau ini ha?? Mau ku kempiskan perutmu apa?
Gogon: huwa....(nangis) ajeng seram....ajeng jahat....aku adukan ke pak dokter loh....(hendak keluar)
Elis: hey tunggu...
Gogon: hayo...takut kan.....makanya ayo maen congklak dan lepas topeng mu...
Elis: baiklah...ayo main...tapi topeng ini adalah terapi dari dokter, jadi harus selalu ku pakai...
Saat hendak main si bonbon masuk dengan tergopoh-gopoh
Bonbon: ajeng ayo main catur mumpung gogon sedang tidak ada di kamarnya...(melihat gogon mengangkat kedua jarinya dan tersenyum padanya) lho??yah keduluan gogon...ajeng jahat!!harusnya main catur dulu denganku...
Gogon: tapi kan aku duluan yang sampai di sini...
Bonbon: (menarik tangan elis) ajeng harus main dengan ku dulu gogon....
Gogon: (menarik tangan elis yang satunya) tidak bisa...ajeng main dengan ku dulu
Elis: (melepaskan tangannya) yak....stop!!cukup!! hey kalian buto ijo....
Bonbon: dia yang buto ijo...(menunjuk ke arah gogon)
Gogon: bukan aku tapi dia...(mennunjuk bobbon)
Elis: (melepas topeng) kalian berdua buto ijo!!! Tahu di mana pasien yang tinggal di sini? Lilis sukma ayu...di mana dia??
Bonbon en gogon: kau bukan ajeng!!!
Elis: memang bukan....dasar gendut!! Dengar tidak orang bicara apa? Di mana pasien di sini yang bernama lilis sukma ayu...
Gogon: di sini memang ada pasien tapi bukan yang kau sebutkan tadi...
Elis: apa?
Bonbon: benar....yanng di sini itu ajeng...bukan sulis sukmayu...
Elis: lilis sukma ayu....bukan sulis...hah sudahlah...(hendak pergi) tunggu...ajeng...ajeng siapa?
Bonbon: ajeng...em...siapa ya....kasih tau gag ya????
Elis: (mencubit perut bonbon) katakan!!!
Gogon: ajeng yudhoyono....
Bonbon: bukan.... ada s s apa gitu...
Gogon: susilo ajeng yudhoyono....
Bonbon: itu kan nama presiden....namanya...suri....suri ajeng....siapa ya...
Elis: tidak mungkkin....sri ajeng yudhayani....
Bonbon en gogon: seratus!!! Benar sekali... itu namanya....
Elis: sri ajeng yudhayani....kakak....kak ajeng....(menangis)....di mana dia sekarang? (emosi)
Bonbon en gogon: tidak tahu (gemetar)
Dokter, suster, dan ajeng masuk.
Ajenng: elis?
Elis: kakak?
Bonbon: bonbon
Gogon: gogon
Dokter:bonbon, gogon....masuk ke kamar kalian....
Bonbon en gogon: tapi dok....
Suter: ada permen untuk kalian....sana ambil di kamarnya....
Bonbon en gogon: yea....
Elis: kakak....kau masih hidup....kau terluka?? Jadi bukan kau....benar...tentu saja...mana mungkin kakak tega melakukannya...pasti lilis sukma ayu yang melakukannya...
Ajeng: elis....apa kau masih belum sadar juga?? Lilis sukma ayu itu...
Elis: pelakunya..iyah....lilis sukma ayu adlah pelakunya...kak, dia pernah dirawat di sini, ayo kita temukan dia, kak.
Ajeng: jangan mulai lagi elis....lilis sukma ayu adalah dirimu sendiri....nama yang kau pakai saat masih bersama orang tua kandung mu.....
Elis: apa yang kakak katakan?? Apa yang terjadi pada kak ajeng dok? Apa dia hilang ingatan?
Dokter: dia hanya mengalami depresi dan setres berat...keluarganya dibunuh oleh adik tirinya sendiri....
Elis: dibunuh? Oleh adik tirinya?? Tapi aku adalah adik tirinya....dan aku bukan pembunuh.....aku tidak membunuh siapapun!!
Ajeng: kau tidak ingat? Kau sungguh tidak ingat? Ingatlah!!! Ingat kembali....
Waktu berjalan mundur. Semua pemain berjalan mundur dengan cepat. Panggung berubah menjadi sebuah rumah. Sepasang suami istri dan nenek yang sedang duduk2 minum teh.
Ajeng: ibu...(duduk di samping ibunya) ibu harus membawa elis ke psikiater secepatnya...
Ibu: tidak perlu jeng....itu hanya kebiasaannya....dia tidak mengganggu kok...
Ayah: ada apa dengan elis bu?
Ibu: (tersenyum) elis suka mengigau saat tidur yah….ajeng terganggu mungkin…
Ajeng: bukan mengigau bu….ayah, elis itu tidur sambil berjalan…
Nenek: apa dia pernah terluka? Berbahaya kalau sampai saat tidur sambil berjalannya kumat dan dia sedang melewati tangga…kalau tidur kau harus mengunci pintu ajeng….
Ajeng: nenek…bukan elis yang harus di khawatirkan…tapi lingkungan sekitarnya…dia pernah terbangun kemudian mencabuti bulu ayam….
Ayah: hahaha kasihan sekali ayamnya….
Ajeng: itu bukan hal yang lucu yah....dia juga mematahkan sayap ayamnya dan mencabik-cabiknya sampai tangan elis berlumuran darah....dia sudah parah....
Ibu: dia sedang mimpi buruk mungkin jeng....
Ajeng: dialah mimpi buruknya!!!
Nenek: pelankan suaramu...nanti elis dengar...
Ajeng: ajeng pernah cari di internet...itu adalah gangguan tidur...akibat depresi dan sebagainya...kita harus membawa elis ke psikiater....harus....
Pembantu: non...tehnya...
Elis masuk dengan tatapan kosong. Dia membawa golok.
Pembantu: non elis mau ke mana? Itu berbahaya...
Elis: diam! (mengayunkan goloknya dan membunuh pembantu)
IANA: elis….
Ajeng: dia….sleepwalking…dia sedang tidak sadar…
Ayah dan ibunya mendekat. Tapi langsung di bantai elis.
Elis: matilah kalian...tidak boleh....menyiksaku lagi...
Ajeng: elis sadarlah....dia bukan orang tua kandung mu....dia ibu dan ayah....sadar lis....
Elis: matilah...mati kalian...tidak dibutuhkan lagi...kalian mati saja...
Ajeng: elis....hentikan....
Elis hendak membunuh ajeng tapi malah neneknya yang kena. Ajeng histeris. Elis meracau tidak karuan. Satpam yang masuk berusaha menghentikan elis juga ikut terbunuh. Ajeng semakin tak berdaya. Dia mengambil telefon dan memecet tombol asal.
Ajeng: siapapun tolong aku!!!! Elis sadar...
Elis: matilah....mati saja kau...
Ajeng: orang tua kandung mu memang bajingan sialan...mereka yang menyebabkanmu depresi dan tersiksa...kenapa tidak kau bunuh saja mereka hah???? Idiot!!!! Lihat siapa yang kau bunuh itu!!!
Ajeng melempar apa saja ke arah elis. Elis tidak bangun juga. Ajeng berjalan mundur dan terjatuh. Elis mendekat, dan mengayunkan goloknya. Tangan ajeng tergores sedikit. Elis kembali mengayunkan. Kali ini goloknya tertancap di perut ajeng. Ajeng meraung mendorong elis. Ajeng dan elis berlumuran darah. Ajeng mencabut golok dari perutnya hendak membunuh elis tapi kesadarannya hilang dan terjatuh bertmpukan barang. Elis menggeret satu persatu mayat ke dalam panggung. Katika hendak menggeret ajeng yang terakhir, dia roboh. Saat terbangun ’kembali ke dialog awal di adegan pertama tadi. Tangaan ajenng bergerak menggenggam golok. Saat itu dokter dan suster datang. Melihat ajeng yang pingsan dan membawanya. Panggung sepi. Elis masuk dengan tangan yang basah oleh air. Tiba-tiba lampu menyoroti area luar panggunhg, samping belakang penonton. Terlihat mayat-mayat tersalib penuh darah. Itu adalah mayat ibu, ayah, nenek, pembantu, dan satpam. Elis berteriak histeris. Terdengar suara ajeng ”kau yang memnuh ayah, ibu, dan nenek ku. Kembalikan nyawa mereka. Kembalikan!”
Elis: bukan. Bukan aku kak....bukan aku.... bukan aku pembunuhnya....(tertunduk, kemudian mendongak sambil tersenyum sinis dan melotot)iyah....bukan aku...tentu saja bukan...lilis....iya lilis sukma ayu....dia pelakunya...aku ini sri elis yudhayani...aku anak yudhayani...dari keluarga yang bahagia...jadi bukan aku pembunuhnya...lilis sukma ayu...dia itu pemnuhnya...dia pasti iri padaku. Dia gadis menyedihkan yang berasal dari keluarga tak mampu. Orang tuanya selalu bertengkar dan saling pukul. Lilis sering dipukuli dan di maki-maki. Dia kabur ke panti asuhan dan berpura-pura hilang ingatan. Pihak panti asuhan mengirimnya ke psikiater karena kebiasaannya yang tidur sambil berjalan mulai serius. Hoh...kasihah sekali gadis seperti itu. Dia pasti yang membunuh keluargaku...lilis sukma ayu, aku pasti akan membunuhmu...(berdiri hendak keluar) tunggu...bagaimana aku bisa tahu kehidupan lilis sukma ayu sejauh ini??
Pannggung gelap. The end.
Digg it StumbleUpon del.icio.us